Saturday, August 25, 2012

BELAJAR AGAMA HARUS DENGAN BIMBINGAN SYAIKH

Bismillah...liridloillah...        

        Ketika mengisi pelajaran bahasa Arab -- atau lebih tepatnya bekal awal untuk  belajar membaca tulisan Arab Gundul-- kepada rekan-rekan di Tuban, ada sebuah komentar yang bagus : " Kalau tulisan Arab itu gundulan, sehingga kalo salah baca saja salah artinya...maka bagaimana dengan Al Qur'an & Hadits yang zaman dulu ditulis tanpa harakat bahkan tanpa titik, sehingga tidak bisa membedakan mana ba' mana ta' mana tsa', tidak bisa membedakan "Habbatus Sauda' ( Jinten Hitam ) dengan "Hayyatus Sauda' ( Ular Hitam ). Jangan-jangan yang kita baca selama ini tidak sama dengan aselinya dari Nabi Muhammad?".

        Maka saya jawab bahwa memang pada zaman Nabi dan Khulafa' Rasyidun, mushaf al Qur'an dan juga catatan-catatan hadits yang ada belum memakai titik-titik di atas huruf, apalagi harokat fatkhah dhommah kasroh.((   Pemberian tanda baca dalam mushaf dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu yang cukup lama, mulai dari prakarsa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan dari Bani Umayyah yang menugaskan Abul Aswad ad Duwali, hingga Khalifah al Ma'mun dari Bani Abbasiyyah masih berlangsung )).

        Lalu ketika proses pemberian tanda baca itu berlangsung, bagaimana para ulama'  menjaga kemurnian bacaan Qur'an maupun Hadits ?. Jawabnya adalah : Melalui proses menghafal ( tahfidz ) dan belajar langsung ( talaqqi ) di hadapan para syekh yang syekh tersebut sebelumnya juga talaqqi kepada syekh-nya, terus naik ke atas hingga ke jajaran sahabat, sahabat talaqqi di hadapan Nabi Muhammad SAAW. Istilah ilmu hadits, harus berguru pada syekh yang punya sanad ( mata rantai keilmuan ) hingga Nabi Muhammad SAAW.

          Jadi meskipun saat itu tulisannya sangat berbeda dengan yang ada saat ini, namun bacaan dan artinya sama sepenuhnya. Sebab dari masa ke masa, ulama' senantiasa mencocok-kan bacaannya,  pemahamannya, tulisan2-nya di hadapan syekhnya. Inilah metode talaqqi, yang merupakan wasilah Allah SWT untuk menjaga kemurnian Islam.

             Maka sekarang saya faham, mengapa dalam kitab Riyadus Sholihin tulisan Imam Nawawi ( abad 6 H ) ada ungkapan " Kami meriwayatkan dalam Shohih Bukhori, Shohih Muslim, dsb... ". Padahal Shohih Bukhori itu diriwayatkan oleh Imam Bukhori ( abad 3 H ), juga Shohih Muslim diriwayatkan oleh Imam Muslim. Itu karena Imam Nawawi belajar kitab hadits itu dari syekh2nya yang bersambung hingga  Imam Bukhori. Begitu pula kalau kita membaca kitab Fathul Bari Syarh Shohih Bukhori tulisan Imam Ibnu Hajar al Asqolani ( w. 9 H ), ternyata Shohih Bukhori itu memiliki banyak variant, bukan dalam kandungan haditsnya, namun dalam judul-sub judul yang menjadi topik kumpulan hadits. Ada salinan versi ash Shoghoni, versi Kasymihani, dsb. Artinya Ibnu Hajar belajar dari penyalin-penyalin tersebut, yang mereka belajar kepada guru-gurunya hingga sampai ke Imam Bukhari.

Jika sekarang kita peduli pada agama kita, dunia dan akhirat kita, mari datang kepada ulama' yang kita percaya untuk belajar ke-ilmuan dari beliau. Jangan belajar dari buku-buku sendiri apalagi terjemahan.

"Alaa Laa tanaalul 'ilma illa bi sittatin * Sa unbika 'an majmu'iha bi bayanin * Dzukain wa hirshin washthibarin wa bulghotin* Wa Irsyadi ustadzin wa thuli zamanin*
"Kau tidak akan meraih ilmu --yang manfaat- kecuali dengan 6 hal * Akan kujelaskan dengan jelas padamu* Kesungguhan berfikir, kesabaran, keingin tahuan, perbekalan, BIMBINGAN GURU, dan masa yang lama!*
( Syair Imam Syafi'i rahimahullah sebagaimana diajarkan dalam pelajaran akhlaq dasar ).

Wallahu a'lamu.

No comments:

Post a Comment